Assalamualaikum saudaraku,,,
Kali ini izinkan aku share lagi tentang pengalaman hidupku. Pengalaman yang membuatku bersyukur, pengalaman yang menunjukkan padaku adanya kasih sayang Tuhan yang begitu luar biasa.
Kira-kira 4 tahun yang lalu, di akhir tahun 2008 menuju tahun 2009 (tanggal persisnya aku lupa) tapi aku ingat waktu itu pas deket-deket liburan natal dan tahun baru. Aku mengalami hal yang bagiku paling menakutkan.
Kejadian waktu itu, aku masih kelas XI, kebetulan bulan desember itu pas mau ujian semester.
Kira-kira minggu kedua di bulan desember, aku sakit. Awalnya demam biasa, diobati sekali sembuh, tapi kumat lagi. Karena waktu itu masa aktif sekolah dan mau ujian, jadi ibuku gak mau aku banyak libur.
Hari kedua aku sakit, ibu membawaku ke dokter umum dekat rumah. Diagnosa dokter aku kena typus (untuk kesekian kalinya). Karna faktor kecape'an, dll. Banyak minum obat tapi kondisiku sama saja. Malam demam, pagi sembuh, siang, sore, sampai malam demam lagi, begitu seterusnya.
Hari keempat, kondisiku makin drop. Aku gak kuat lagi jalan. Dipanggil lah dokter ke rumahku. Dokter bilang aku harus bedrest, dan obat pun makin banyak. Karena tidak ada biaya, aku masih dirawat dirumah saja.
Seminggu berlalu, kondisiku masih sama. Bahkan lebih parah, aku pendarahan.. Persis seperti wanita pasca melahirkan (kata ibuku). Ibuku menangis, karna aku. Berkali-kali aku pingsan tanpa sebab. Jangankan berdiri, duduk pun aku langsung pingsan. Aku menangis,, Muncul pertanyaan dalam hatiku..
Akankah aku sampai di hari esok?? Akankah masih kulihat matahari esok??
Ya Allah,, jika ini akhirku. Izinkan aku mohon ampun pada ibuku..
Ya Allah,, jika ini akhirku. Izinkan aku mohon ampun pada ibuku..
Siang itu, ibuku masuk kamar, menyapaku, dan bertanya,,
"Kamu pengen apa nduk???"
"Aku pengen duduk." Kataku sambil tersenyum.
Ibuku membangunkanku, mengizinkanku duduk dan memeluknya..
"Maafin aku buk,,, Maafin aku.."
Kata itu keluar begitu saja. Aku masih mengingatnya sampai sekarang.
Aku tau ibuku menangis, meski beliau tidak mau menunjukkannya. Aku memeluknya erat. Aku merasa nyaman. nyamaan sekali. Tapi kemudian aku gak bisa mendengar suara ibuku. Gelap sekali..
Untuk sekian menit kemudian aku bisa mendengar suara ibuku. Sayup-sayup kudengar ibuku panik memanggil ayahku. Beliau menangis sambil memelukku. Ternyata aku baru pingsan.
Ketika sudah mulai jelas kudengar semuanya, aku gerakkan tanganku, dan kupanggil ibuku. Ibuku tersenyum lega. Dibaringkannya aku lagi. Ibu bilang aku gak boleh banyak gerak.
Malam itu, aku kembali di bawa ke dokter, tapi yang berbeda. Dokter menyarankan aku tes darah.
Apa?? Tes Darah?? Berapa biayanya?? Ya Allah,, aku gak mau merepotkan orang tuaku lebih jauh. Tapi aku gak bisa apa-apa. Aku hanya pasrah dan hanya bisa mendoakan orang tuaku.
Pulang dari dokter, aku langsung istirahat. Malam itu aku bermimpi. Aku melihat lorong rumah sakit. Panjang sekali,, dan sepi. Gak ada satu orang pun yang menyapaku. Bangun tidur kuceritakan mimpi itu pada ibuku. Ibuku hanya membelai rambutku sambil menangis. Aku pejamkan mataku. Aku gak mau melihat ibuku menangis.
Siang esok harinya, aku berangkat tes darah. Ternyata dokter itu merekomendasikan aku tes darah di Medical
Center yang biayanya tidak terlalu mahal. Alhamdulillah,, biayanya
masih bisa dijangkau tangan keluargaku. Kondisiku lemah sekali. Aku masih pendarahan hebat, mimisan juga. Setelah darahku diambil, aku muntah-muntah hebat. Kata ayahku aku langsung pingsan.
Sore hari petugas yang tadinya megambil darahku di lab datang kerumah. Ternyata hasil tes belum keluar. Ada kesalahan, jadi sample darahku harus diambil lagi. Malam harinya, baru lah hasil tes itu keluar.
Petugas itu kembali datang kerumah. Orang itu hanya bicara dengan orang tuaku di ruang tamu. Suaranya lirih, tapi aku masih bisa mendengarnya. Petugas itu bilang, kondisiku sudah parah. Aku harus ke rumah sakit. Sebelum terlambat. Semuanya drop. Tensi, Hb, trombosit. Semuanya drop.
Setelah petugas itu pulang, ibuku kembali ke kamar. Aku hanya pura-pura tidur, tapi mata ini terus menahan tangis. Ditaruhnya hasil tes di meja belajarku, dan ibuku pergi sholat. Perlahan kuambil amplop dari lab itu, aku buka dan aku baca isinya. Banyak sekali kata-kata yang tidak ku mengerti. Tapi aku murid IPA, sedikit banyak aku tau maksud hasil tes itu. DBD, maag kronis, dan entah apa lagi. Data yang paling aku ingat waktu itu adalah Trombosit. Trombositku drop hanya 12 (bukan 120), yang mana jumlah normal 150.
Kalian tau bagaimana rasanya? Down. Sangat down. Ku kembalikan lagi lipatan hasil lab itu, aku taruh lagi diatas meja karna kudengar ibuku sudah selesai sholat. Gak lama kemudian, ibuku masuk kamar, aku masih pura-pura tidur. Ibuku mengusap wajahku sambil terisak. Dadaku semakin sesak mendengar suara tangis ibuku yang berusaha ditahannya.
Ya Allah,, Kumohon kuatkan ibuku..
Aku gak tahan lagi. Kubuka mataku, berharap ibuku berhenti menangis. Ibuku tersenyum melihatku membuka mata. Aku bilang aku ingin minum.
Sesaat kemudian ayahku masuk. Orang tuaku mengajakku kerumah sakit. Katanya aku harus opname. Aku bertanya "Darimana biaya rumah sakit?" tapi ibuku bilang aku gak usah memikirkannya. Aku hanya pasrah, kuterima apapun takdirku.
Malam itu juga aku kerumah sakit. Langsung menuju ruang UGD, Alhamdulillah aku langsung ditangani. Dan saat dipindahkan ke ruang rawat inap, disitu kulihat kembali lorong rumah sakit yang pernah muncul di mimpiku. Aku baru sadar, ternyata ini petunjuk Tuhan..
Malam itu juga aku kerumah sakit. Langsung menuju ruang UGD, Alhamdulillah aku langsung ditangani. Dan saat dipindahkan ke ruang rawat inap, disitu kulihat kembali lorong rumah sakit yang pernah muncul di mimpiku. Aku baru sadar, ternyata ini petunjuk Tuhan..
Keesokan harinya, aku masih terbaring. Sesekali aku ingin keluar menghirup udara segar. Tapi siang itu, aku pendarahan lagi lewat hidung. Banyak sekali. Seketika itu ibuku panik. Untuk kemudian dokter datang dah menghentikan pendarahan itu. Aku gak akan menceritakan apa yang dilakukan dokter waktu itu padaku, aku takut kalian jijik membayangkannya. Yang pasti ibuku menangis sambil menggenggam tanganku. Aku juga. Dokter berusaha menenangkan ibuku, bahwa aku baik-baik saja. Tapi dokter bilang aku harus benar-benar bedrest, gak boleh kemana-mana.
Tiap pagi pasti selalu ada petugas lab datang mengambil sample darahku. Karena aku pasien paling cerewet, aku tanya segala macem. Mereka bilang ada masalah dengan ginjalku. Makanya tiap hari makananku selalu bubur. Tapi kemudian aku lega, karna diagnosa itu salah. Hanya perutku sedikit kram, jadi terasa sakit.
Hari keempat di rumah sakit, kondisiku membaik, Alhamdulillah. Ibuku mulai bisa tidur nyenyak. Aku sudah bisa tertawa, bercanda, dan membuat ibuku tersenyum. Saat itulah aku berani memberi kabar teman-temanku. Termasuk pacarku. Jadi dia gak pernah tau masa kritisku. Aku bilang aku masih dirumah dan gak mau ditemui. Dia tahu masa kritisku setelah sekian hari aku dirumah sakit.
Aku sebenernya udah gak betah lama-lama di rumah sakit. Hanya saja aku gak bisa pulang karna dokternya lagi libur natal sampai tahun baru. Jadi aku harus nunggu tanggal 2 januari baru bisa pulang.
Akhirnya pas tanggal 2 januari, dokter kembali masuk kerja. Aku diperiksa, dan si dokter kaget melihatku..
"Lho,, kog masih disini yat? Gak pengen pulang kamu?"
"Lho,, kog masuk kerja pak? gak libur lagi? Enak aku gak bisa pulang kalo sampean libur terus..!" kataku.
"Tuuh kan sembuh dah,, wes pulang!"
"Lhooo ngusir! Aku gak ketemu paknya lagi la'an? kalo kangen ya apa??"
"Yaa,, nanti kalo kontrol kan ketemu lagi..!"
Ibuku tertawa, si dokter juga. Pokoknya ceria hari itu. Gak ada lagi air mata ibuku.
Siang itu ayahku langsung mengurusi segala hal yang aku butuhkan. Sore sekitar pukul 14.00 aku pulang dari rumah sakit.
Aku bersyukur. Tuhan masih menyayangiku. Aku lahir dari seorang ibu yang luar biasa. Tuhan masih memberiku hidup, bahkan sampai detik ini aku masih bisa menuliskan kisah ini. Dan bisa mengenal kalian, saudaraku #Sulekers.. Thank's God,,
Hargai setiap nafas yang Tuhan beri untuk kita. Gunakan sisa hidup untuk melakukan yang terbaik. Buatlah hidupmu bermakna bagi orang lain. :)
SALAM SULEKERS
**Yati's Life Story**




1 comments:
Mrebesmili
Post a Comment