Dulu, aku masuk SD tahun 1998, umurku masih 6 taun. Kenapa aku SD umur 6 taun? (sementara usia masuk SD mestinya 7 taun) karna umur segitu aku udah lancar Calistung (baca tulis hitung). Aku nggak pernah TK. Aku nggak tau rasanya sekolah TK yang banyak mainan dan katanya cuma nyanyi2 itu. Aku belajar sendiri sejak balita sama Ayah Ibuku yang luar biasa.. Nggak sombong, tapi setaun pertama sekolah, aku juara kelas. Aku disayang guru pertamaku, namanya Ibu Siti Fatimah (beliau sudah meninggal dunia saat ini), begitu juga aku menyayangi beliau.
Tahun pertama lewat, aku naik ke kelas 2. Ayah Ibuku yang luar biasa itu, mereka bangga atas hasil didikan mereka padaku.
Ibu : "Belajar yang rajin yah?! Kelas makin tinggi pelajarannya
makin sulit. Prestasinya nggak boleh turun yah?!"
Kata2 itu selalu terngiang2 di kepalaku sepanjang aku sekolah. Naik ke kelas 2, aku mulai ngerti main, mulai akrab sama temen2 sekolah, mainlah tambah rajin. Gimana belajarnya?? Yaa,, tau dah. Namanya juga anak2.
Umurku sudah 7 tahun, dan ada kabar gembira di tahun itu. Aku mau punya adik. Yup,, ibuku hamil anak kedua. Gimana rasanya?? seneeeeng ... Tapi karna masih kecil jadi aku masih gak begitu ngerti. sombongnya Yati kecil waktu itu. Tiap kali main, aku pasti woro2 ke temen2ku..
"Rek, aku mau punya adik lho,..!"
Suatu hari, pas jam tidur siang. Aku sudah siap ditempat tidur bersama ibuku. Kebiasaan sebelum tidur, pasti cerita2 dulu sama ibu. Paling suka kalo ibuku cerita masa kecilnya. Waktu itu aku masih tidur sama ibu, karna belum punya kamar sendiri. Perut ibuku makin besar. Aku elus2, aku tempelin telingaku di perut beliau. Ibuku bilang...
Ibu : "Coba dengerin adik'e lagi apa di dalem?"
Aku : "nggak tau.. nggak denger apa2..!"
Ibuku tersenyum melihat tingkah polosku. trus ibu tanya..
Ibu : "Kamu mau adik cowok apa cewek?"
Aku : "Cewek.."
Ibu : " Nggak kepengen adik cowok?"
Aku : "Nggak.. nggak bisa diajak main bareng"
Ibu : "Kalo adik'e yang keluar cowok gimana?"
Aku : "Biarin,, poko'e kalo cowok nggak boleh tidur sama aku,
nggak boleh main sama aku, nggak tak cuciin bajunya.
Klo cewek nggak papa."
Ibu : (hanya tersenyum, ngusap rambutku)
"ya udah, yuk tidur!"
Aku langsung meluk guling kesayangan, Tidur siang sama ibu.
*****
Aku lupa waktu itu gimana, yang pasti aku nggak ikut ke rumah sakit. Yang ikut cuma bapak, sama budeku. Katanya kelahirannya cepet. Kog nggak pulang2?? Aku tunggu orang tuaku pulang ke rumah. Ibuku berangkat sore hari, dan sampe malem belum pulang juga.. Kutunggu...
Selang beberapa waktu, aku dengar orang tuaku pulang. Kusambut dengan ceria, penasaran liat adikku. Aku langsung menghampiri budeku yang kulihat sedang menggendong bayi.
Bude : "Sek, adik'e bubuk"
Aku : "oo.. sssttt.. jangan rame" kataku sambil bercanda.
"Apa adik'e? cowok apa cewek?"
Bude : "cowok.."
Aku : "yaah,," kataku sambil sedikit kecewa.
Aku sempet melihat adikku karna ku buka selimutnya, tapi ditutup lagi sama budeku.
Sementara ibu dianter bapak ke kamar, budeku juga ngikut. Nenekku nangis sambil meluk ibuku. Ada apa?? Tanda tanya besar...
Tak lama kemudian, budeku keluar, TANPA ADIKKU. untuk kemudian mengajakku bicara..
Bude : "Nduk,, adik'e wez nggak ada!"
Aku tersentak mendengar satu kalimat itu. Rasanya seperti gelap saat itu juga. Tanpa pikir panjang aku lari ke kamar ibuku. Disana aku melihat adikku masih berselimut tebal, yang aku pilihkan waktu belanja sama orang tuaku. Aku hampiri adikku. Aku liat dia ganteng, putih, hidungnya mancung.
Ibuku tersenyum disamping adikku..
Ibu : "Adik'e masih tidur"
Kulihat ibuku sedih. Beliau belum percaya adikku sudah tidak ada. Dibelainya rambut tebal adikku. Aku menangis sejadi jadinya,, Innalillahi Wainnailaihi Roji'un...
"Ini semua gara2 aku!! Aku yang nggak mau punya adik cowok."
Kusalahkan diriku sendiri.. Aku benci kata2ku pada ibuku waktu itu. Aku nggak tau kalo sebenarnya orang tuaku sangat mengingikan anak laki2. Perasaan bersalah yang begitu besar.. yang masih sangat melekat sampai aku dewasa. Tapi apa yang bisa kuperbuat??? Malam itu juga, banyak sekali tetangga2 yang datang kerumahku. mereka menguatkan ibuku, bapakku, dan aku. Dan budeku menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada adikku.
Ternyata adikku sempat hidup. Tapi hanya 3 jam setelah kelahirannya jam 6 sore. Artinya adikku meninngal jam 9 malam. Waktu kelahiran, memang aneh, karna adikku tidak menangis. Detak jantungnya lemah sekali. Tapi ibuku yakin adikku bisa bertahan. Karna kondisi tersebut, adikku dirawat di inkubator. Tapi tepat jam 9 malam, adikku dinyatakan meninggal, karna jantungnya tidak bekerja.
Sedih luar biasa saat itu. Senang, senyum gembira yang dari tadi aku perlihatkan, langsung berubah sebaliknya. Perawatan jenazah adikku dilakukan malam itu juga. Cuma pemakaman besok paginya karna malam sudah begitu larut. Adikku diberi nama NUR HUDA..
Besok paginya, semakin ramai dirumahku. Banyak orang berdatangan membantu proses pemakaman adikku. Yang mana adikku dimakamkan di pemakaman depan rumahku. Aku hanya bisa menangis terus,, Sementara ibuku tabah sekali.. Beliau tidak pernah memperlihatkan kesedihannya. Sambil masih terbaring di tempat tidur, ibuku menjawab setiap tamu yang datang.
*****
Sekian waktu berlalu sejak kejadian itu, aku masih terus menyalahkan diriku sendiri (sampai detik aku menulis cerita ini). Sejak itu aku berjanji, kalau aku mau punya adik lagi, apapun adiknya aku mau. Dan benar.. Kurang lebih satu setengah taun kemudian, ibuku hamil lagi, anak ketiga. Untuk kehamilan yang ini alhamdulillah lancar. Ibuku sehat, bayinya juga. Setiap kali ibuku bertanya aku mau adik apa? Aku jawab apa saja yang dikasi Tuhan...
Dan tepat tanggal 23 Juni 2001, adikku lahir berjenis kelamin perempuan. Dia lahir pagi hari setelah sholat subuh (sama denganku). Kali ini kelahiran tidak di rumah sakit, tapi di bidan. Kelahiran adikku lancar, cepat sekali.. Jam 6 pagi ibuku sudah pulang kerumah.. Aku bahagia.. begitu juga orang tuaku.. Benar2 kutemani adikku, kusayangi dia. Orang tuaku memberinya nama Mevi Dhitiya..
Aku sayang adikku,, Dialah harapanku, harapan orang tuaku. untuk meneruskan cita2 ibuku yang belum bisa aku penuhi. Dia tumbuh menjadi anak yang cerdas, disukai teman2 dan guru2 di sekolahnya. Orang tuaku bangga padanya. Aku berniat bekerja keras, Aku ingin membiayai sekolahnya sampai tinggi dan mewujudkan cita2nya.. Semoga aku bisa.. Amiiinnn..
*****
Sebenarnya tahun 2011 lalu aku mau punya adik lagi. Aku sedikit khawatir, karna mengingat usia ibuku yang sebenarnya "kurang maksimal" untuk hamil. Diatas 30 tahun, beresiko. Dan benar saja, di usia 3 bulan kandungan ibuku melemah.. dan kami (kembali) kehilangan calon anggota baru di keluargaku. Ibuku keguguran. Hanya saja ibuku lebih tabah karna memang bidan juga sudah mewanti2 sebelumnya. Calon adikku itu dimakamkan persis di samping makam Nur Huda..
Sedih?? pasti. Tapi aku bersyukur dengan keluargaku yang sekarang. Kami cukup bahagia meski sederhana. Aku hanya ingin bekerja lebih keras untuk merubah kehidupan keluargaku. Membuatnya lebih baik. Semoga Tuhan memberiku jalan..
"Dan untuk adikku Mevi Dhitiya, mbak sayang kamu dek,, Buat ibu bangga dengan prestasimu. Cukup doakan mbak supaya mbak bisa sekolahin kamu sampe tuntas..."
I LOVE MY FAMILY SO MUCH



0 comments:
Post a Comment